Belajarlah Takut Kepada Allah dan Berharaplah kepada Allah.

06 August 2012






Ketika Rasa khauf (takut kepada Allah) melalui tindakan  mawas diri yang terus menerus, baik secara rahasia maupun terang-terangan ini menandakan bahwa
"Barangsiapa yang takut terhadap selain Allah, atau berharap kepada selain darinya, maka semua pintu kehidupan akan tertutup baginya, sedangkan rasa takut akan menguasainya"

"Baginya orang yang takut kepada keagungan Tuhannya disediakan dua macam syurga, syurga kecil dalam hatinya, dan syurga besar di akhiratnya"

(Qs. Ar-Rahman : 55:46)

Bersamaan dengan rasa khauf (takut kepada Allah) di iringi sikap Ar-raja (berharap kepada Allah) Maka ini memotivasi diri melalui kesadaran akan tujuan dalam melahirkan disiplin yang membuat mereka fleksibel dan mudah beradaptasi, serta mampu mengantisipasi secara tidak kaku. maka untuk hal tersebut :

1. Janganlah terlalu  berharap 100% percaya  terhadap mahluk (meskipun itu adalah istrimu) hal tersebut membuat kita terlena & kecewa.

Berapa banyak suami yang jaya, karena sang istri, akhirnya tumbang karena sang istri. berapa suami jatuh miskin lantaran mereka takut dan selalu menuruti kemauan sang istri? dan berapa banyak orang tersakiti dan ternodai apabila harapan dan ketakutan disandarkan kepada Mahluk?..

2. Janganlah menuntut ilmu apabila tidak disandarkan Rasa takut dan berharap ridhanya kepada Allah.

Ilmu adalah cahaya yang menerangi ibadah, ibadah tanpa didasari ilmu maka ibadahnya tertolak/diterima. untuk hal tersebut seorang muslim di wajibkan menuntut ilmu haruslah di sandarkan karena rasa berharap akan ridhanya Allah dan takut akan Allah bila ilmunya kelak tidak bermanfaat dan menjadikan fitnah.

3. Janganlah merasa Aman apabila berharap dan takut kepada Fasilitas hidup yang Mewah dan Harta benda yang berlimpah.

Seharusnya, seorang muslim merasa aman dan tidaknya dalam hidup bukan karena takut atau berharap banyaknya atau sedikitnya fasilitas hidup(harta), akan tetapi amannya seseorang takut dan berharap di tangan Allah SWT. karena itu barang siapa takutnya kepada Allah dan berharap kepada Allah maka Allah SWT bersifat maha penjaga, pelindung, pengaman setiap mahluk, karenanya tidak beralasan kita cemas menatap masa depan atau sebaliknya merasa aman ketika perbekalan hidup tercukupi.

Bisa diselamatkankah harta kita, apabila Allah SWT telah memintanya?..
sebaliknya bisakan menolak apabila Allah SWT telah memberinya?..

Karena itu haqeqat yang mengamankan manusia bukanlah harta kekayaan kita namun yang maha kuasa. Sebagai contoh mungkin orang merasa cemas/depresi ketika melihat dirinya sudah akan pensiun, atau sudah tidak bisa bekerja lagi karena sudah tua?..secara tidak langsung orang bersangkutan kurang yakin bahwa Allah SWT telah memeliharanya, memberi sarana dan prasarana dalam hidup dan kehidupan manusia. Sebaliknya orang yang menganggap berharap kepada kemampuan hidup dirinya (tanpa pertolongan Allah SWT) karena harta dan perbekalan hidup yang dimiliki, sifat tersebut adalah merupakan suatu kesombongan.
Naudzubillah...

ShareThis